_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"lifeblogid.com","urls":{"Home":"https://lifeblogid.com","Category":"https://lifeblogid.com/category/pengetahuan/agama/","Archive":"https://lifeblogid.com/2017/08/","Post":"https://lifeblogid.com/2017/08/26/resep-mp-asi-ubi-untuk-bayi-usia-6-bulan/","Page":"https://lifeblogid.com/kuppee-japanese-quality-international-specifications/","Attachment":"https://lifeblogid.com/2017/08/26/tempat-wisata-kuliner-jakarta-populer/restoran-jemahdi-seafood/","Nav_menu_item":"https://lifeblogid.com/2017/08/15/200581/","Mts_ad":"https://lifeblogid.com/?mts_ad=199934","Wp_quiz":"https://lifeblogid.com/wp_quiz/can-you-name-the-leo-dicaprio-movie-by-an-image/","Feedback":"https://lifeblogid.com/?post_type=feedback&p=201108"}}_ap_ufee

LIPI Terus Mengembangkan Bahan Bakar Hidrogen Dari Bakteri Laut



Pencarian alternatif sumber energi baru masih terus dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian baik oleh swastra maupun pemerintas. Salah satunya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang terus mengembangkan penelitian dalam rangka menghasilkan bahan bakar hidrogen memanfaatkan bakteri laut, Rhodobium marinum.

Berdasarkan pemaparan singkat dari peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Peza Reko, penelitian ini dapat menjadi alternatif supaya negara kita tidak terlalu bergantung pada bahan bakar fosil yang cadangannya sudah mulai menipis sejak dimanfaatkan dalam 200 tahun terakhir hingga saat ini.

lipi

“Di Taiwan dan Yunani teknologi ini sudah dipakai, namun memang masih sedikit (belum massal),” ujarnya kepada Antara pada acara “Biotechnology is Fun” yang diselenggarakan oleh LIPI di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat, pada Kamis, 19 November 2015 yang lalu.

Adapun fokus dan tujuan penelitian yang telah dimulai pada tahun 2003 ini adalah bagaimana gas hidrogen yang dihasilkan dari bakteri Rhodobium marinum, diubah menjadi energi listrik. Cara kerjanya secara umum yaitu bakteri diatur agar bisa mengeluarkan hidrogen melalui proses fermentasi, setelah Rhodobium marinum menyerap substrat yang memiliki kadar karbon yang tinggi.

Sebenarnya hasil fermentasi dari bakteri Rhodobium marinum ini bukanlah hidrogen murni. Karena itu untuk mengakalinya dimanfaatkanlah mikroalgae Spirulina sp. agar dapat menyerap gas lain di luar hidrogen, seperti karbon dioksida (CO2) yang akan berfungsi dalam proses fotosintesis.

“Sementara itu tingkat pH di media bakteri harus tetap di kisaran 6-7. Untuk menjaganya kami menggunakan natrium hidroksida (NaOH),” lanjut Peza.

Proses selanjutnya adalah hidrogen yang terkumpul kemudian disedot untuk memutar dinamo yang telah dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa menyerap oksigen dari udara bebas. Kedua jenis gas ini akan berperan sebagai anoda dan katoda yang dapat menghasilkan energi listrik.

“Kami menargetkan pada tahun 2045 hasil penelitian ini bisa diterapkan ke kendaraan bermotor masyarakat,” tutur Peza.

Selain bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, teknologi ini juga dapat mengurangi limbah, khususnya limbah cair berkarbon tinggi seperti limbah vinasse dari industri gula. Vinasse sendiri adalah sisa pemrosesan limbah gula menjadi etanol.



Leave a Reply