_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"lifeblogid.com","urls":{"Home":"https://lifeblogid.com","Category":"https://lifeblogid.com/category/pengetahuan/agama/","Archive":"https://lifeblogid.com/2017/06/","Post":"https://lifeblogid.com/2017/06/05/bayi-jarang-bab-dan-sering-kentut-bahaya-tidak/","Page":"https://lifeblogid.com/kuppee-japanese-quality-international-specifications/","Attachment":"https://lifeblogid.com/2017/06/05/bayi-jarang-bab-dan-sering-kentut-bahaya-tidak/bayi-jarang-bab-sering-kentut/","Nav_menu_item":"https://lifeblogid.com/2016/04/25/199450/","Mts_ad":"https://lifeblogid.com/?mts_ad=199934","Feedback":"https://lifeblogid.com/?post_type=feedback&p=199979"}}_ap_ufee

Keraton Kasepuhan – Rumah Adat Jawa Barat



Rumah adat Kasepuhan sebagai Rumah Adat Jawa Barat disebut juga dengna Keraton Kasepuhan. Didirikan dengan oleh Pangeran Cakrabuana sekitar tahun 1529 serta. Beliau merupakan putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Keraton sejak ini merupakan perluasan dari Keraton itu Pakungwati, yang merupakan keraton yang telah ada sebelumnya.

Keraton Kasepuhan – Rumah Adat Jawa Barat

Keraton Kasepuhan - Rumah Adat Jawa Barat

Keraton Kasepuhan – Rumah Adat Jawa Barat

Dibawah ini adalah bagian-bagian ada yang terdapat dalam Keraton Kasepuhan:

1. Pintu Gerbang Utama
Terdapat dua pintu gerbang yang pertama terletak di sebelah utara, sedangkan yang kedua adalah berada di selatan kompleks. itu Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit berupa jembatan, sedangkan itu di sebelah selatan disebut LawangSanga (pintu sembilan).

2. Bangunan Pancaratna
Terletak disebelah kiri depan itu kompleks arah Barat dan berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa atau kampung yang diterima oleh Demang atau Wedana.

3. Bangunan Pangrawit
Bangunan ini terletak di kiri depan kompleks dengan posisi menghadap arah Utara.serta Nama Pancaniti berasal dari dua kata yaitu panca berarti jalan, dan niti dari yang berarti mata atau raja atau atasan. Fungsinya adalah sebagai tempat perwira melatih itu prajurit, tempat istirahat, dan juga sebagai tempat pengadilan.

Kompleks dalam keraton kasepuhan Cirebon dibagi menjadi 3 bagian dalam hal ini, yaitu:

1. Halaman Pertama
Setelah melalui Pancaratna dan Pancaniti selanjutnya akan memasuki halaman pertama. Untuk itu memasukinya, bisa melewati Gapura Adi atau Gapura Banteng. Gapura itu Adi ini berada di utara Siti Inggil.

Halaman pertama merupakan kompleks Siti Inggil dan terdapat beberapa bangunan itu lagi, antara lain:

a. Mande Pendawa Lima
bangunan yang berfungsi dalam untuk tempat duduk pengawal Raja.

b. Mande Malang Semirang
Bangunan yang berfungsi dalam sebagai tempat duduk raja timadu menyaksikan acara di alun-alun.

c. Mande Semar Timandu
Bangunan yang berfungsi itu sebagai tempat duduk penghulu atau penasehat raja.

d. Mande Karesmen
Bangunan sebagi wadah/ tempat menampilkan kesenian untuk raja.

e. Mande Pengiring
Bangunan yang berfungsi itu sebagai tempat mengiring raja.

f. Bangunan Pengada
Bangunan itu yang berfungsi sebagai tempat membagi berkat dan tempat pemeriksaan sebelum menghadap raja.

2. Halaman kedua
Halaman ini dibatasi dengan tembok bata. Pada sisi pagar bagian Utara terdapat dua gerbang, yaitu adalah Regol Pengada dan gapura lonceng. Regol serta Pengada merupakan pintu gerbang masuk halaman ketiga dan berbentuk paduraksa. Gapura itu Lonceng terdapat di sebelah Timur Gerbang Pangada

a. Halaman Pengada
Halaman Pengada berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau menambatkan kuda. Di halaman itu dahulu ada sumur untuk memberi minum kuda.

b. Halaman kompleks Langgar Agung
Merupakan halaman di mana terdapat bangunan kompleks Langgar Agung. Bangunan itu Langgar Agung menghadap ke arah Timur lalu. Langgar ini berfungsi sebagai tempat ibadah kerabat keraton. Bangunan Langgar dan nah Agung dilengkapi pula dengan Pos Bedug Somogiri. Bangunan itu yang menghadap ke Timur ini berdenah bujursangkar berukuran 4 x 4 m yang di dalamnya terdapat bedug (tambur). Bangunan itu tanpa dinding dan atap berbentuk limas, penutup atap didukung 4 tiang utama dan 5 tiang pendukung.

3. Halaman Ketiga
Ini merupakan merupakan kompleks inti Keraton Kasepuhan. Di dalamnya adalah terdapat beberapa bangunan seperti:

a. Taman Bunderan Dewandaru.
Memiliki arti dari namanya, bunder, yang dapat berarti sepakat. Dewa berarti dewa dan ndaru artinya itu cahaya. Arti keseluruhan adalah “orang yang menerangi sesama mereka yang masih hidup dalam masa kegelapan”.

b. Museum Benda Kuno
Bangunan yang menghadap Timur berbentuk “E”. Terdapat itu 2 pintu untuk memenuhi bangunan tersebut. Di sini disimpan benda-benda kuno Keraton Kasepuhan.

c. Museum Kereta
Bangunan ini menghadap barat dan teat di Timur Taman Bunderan Dewandaru. Di Museum itu Kereta tersimpan kereta-kereta dan barang lainnya.

d. Tunggu Manunggal
Bangunan itu berupa batu pendek yang dikelilingi 8 buah pot bunga yang melambangkan Allah yang satu zat sifatnya.

e. Lunjuk
Bangunan ini menghadap Timur dan yang berfungsi melayani tamu dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.

f. Sri Manganti
Bangunan ini berada di Timur tugu manunggal berbentuk bujursangkar. Bangunan itu terbuka tanpa dinding. Bangunan itu bernama Sri Manganti karena arti sri artinya raja, manganti artinya itu menunggu. Sehingga artinya secara keseluruhan tempat menunggu keputusan raja.

g. Bangunan Induk Keraton
Bangunan induk keraton merupakan tempat aktivitas Sultan, dalam itu bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang itu berbeda, yaitu :

h. Kuncung dan Kutagara Wadasan.
Kuncung berupa bangunan itu yang digunakan parkir kendaraan sultan.

i. Jinem Pangrawit
Bangunan yang berfungsi sebagai serambi keraton. Nama jinem Pangrawit itu berasal dari kata jinem atau kajineman berarti tempat tugas dan Pangrawit berasal dari kata rawit berati kecil, halus atau itu bagus. Ruangan ini digunakan sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam menerima tamu.

j. Gajah Nguling
Ruangan tanpa dinding dan terdapat 6 tiang bulat bergaya tiang tuscan. Bentuk ruangan itumengambil bentuk gajah yang sedang Nguling dengan belalainya yang bengkok. Ruangan itu dibangun oleh Sultan Sepuh IX pada tahun 1845.

k. Bangsal Pringgandani
Ruangan yang berada di sebelah selatan ruangan Gajah Nguling yang berfungsi sebagai tempat menghadap para Bupati Cirebon, dan Kuningan, Indramayu dan Majalengka. Sewaktu-waktu itu dipakai pula sebagai tempat sidang warga keraton.

l. Bangsal Prabayasa
Berada di selatan bangsal Pringgandani. “Prabayasa” berasal itu dari kata praba artinya sayap dan yasa artinya besar. Kata-kata itu tersebut mengandung arti bahwa Sultan melindungi rakyatnya dengan kedua tangannya yang besar. Pada dinding ruangan itu terdapat relief yang diberi nama Kembang Kanigaran berarti lambing kenegaraan. Maksudnya itu Sri Sultan dalam pemerintahannya harus welas asih pada rakyatnya.

m. Bangsal Agung Panembahan
Ruangan yang berada di selatan dan satu meter lebih tinggi dari bangsal Prabayaksa. Fungsinya itu sebagai singgasana Gusti itu Panembahan. Ruangan ini masih asli dan belum ada perubahan sejak dibangun tahun 1529.

n. Pungkuran
Merupakan ruangan itu serambi yang terletak di belakang Keraton dan berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji pada waktu peringatan Maulid Nabi Muhamad.

o. Bangunan Dapur Maulud
Berada di depan Kaputren itu dengan arah hadap Timur yang berfungsi sebagai tempat memasak persiapan peringatan Maulid Nabi SAW.

p. Pamburatan
Bangunan yang berada di selatan Kaputren. Pambuaran itu artinya menggurat atau mengerik. Bangunan itu berfungsi sebagai tempat mengerik kayu-kayu wangi (kayu untuk boreh) untuk kelengkapan selamatan Maulud Nabi SAW.



Tulis Komentar