_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"lifeblogid.com","urls":{"Home":"https://lifeblogid.com","Category":"https://lifeblogid.com/category/pengetahuan/agama/","Archive":"https://lifeblogid.com/2017/06/","Post":"https://lifeblogid.com/2017/06/05/bayi-jarang-bab-dan-sering-kentut-bahaya-tidak/","Page":"https://lifeblogid.com/kuppee-japanese-quality-international-specifications/","Attachment":"https://lifeblogid.com/2017/06/05/bayi-jarang-bab-dan-sering-kentut-bahaya-tidak/bayi-jarang-bab-sering-kentut/","Nav_menu_item":"https://lifeblogid.com/2016/04/25/199450/","Mts_ad":"https://lifeblogid.com/?mts_ad=199934","Feedback":"https://lifeblogid.com/?post_type=feedback&p=199979"}}_ap_ufee

Cerpen Cinta Romantis – Aku dan Masa Lalu



Cerita ini bermula saat dia datang lagi dalam kehidupanku yang sudah tertata dengan tenang. Aku, Alaina Kusumaningrum, sudah memantapkan hidupku di jalanku yang sekarang ini. Jalan yang mungkin tidak semua orang mau terjun di dalamnya. Jalan di mana seluruh kehidupanku aku persembahkan buat mengabdi pada sebuah tempat yang bernama panti. Ya sudah beberapa bulan ini aku mengabdikan diriku pada sebuah panti asuhan yang dihuni oleh anak-anak yang tidak beruntung. Di sinilah aku bisa membangkitkan kembali hidupku. Aku bisa mendamaikan hatiku.

cerpen cinta romantis terbaik

Setelah aku nyaman berada di sini, seseorang dari masa laluku kembali hadir, memporak-porandakan isi hatiku. Sebenarnya bisa saja aku bersikap masa bodoh tentang dia. Tapi repotnya dia sepertinya tak pernah merasa bosan untuk terus menerus tersenyum dan menatapku, mengingatkanku pada masa lalu. Saat yang mungkin memang ingin kulupakan.

Tidak ada yang tercela dari masa lalu kami. Hanya saja mungkin jika masa laluku itu dulu tak kuabaikan, akan ada cerita lain dari hidupku sekarang ini. Mungkin juga tak akan terpikirkan sedikit pun buatku untuk terjun dalam dunia anak-anak yang mengenaskan.

Saat itu, ketika usiaku masih sangat belia. Tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA kelas satu, datang seorang yang mengaku kerabat jauh dari kampungku. Yang pasti dia seorang laki-laki. Ya menurut penilaianku saat itu, cukup tampan dan mapan. Keluargaku menerimanya dengan senang hati. Cukup lama dia tinggal di tempatku. Hingga pada akhirnya dia pergi dari rumah kami setelah dia dapatkan sebuah rumah untuk tempat tinggalnya.

Dia tinggalkan rumah kami, bukan berarti dia tak pernah lagi berkunjung ke tempat kami. Dia, Hartono Saputra, aku biasa memanggilnya Mas Har cukup sering melakukan kunjungan ke rumah. Mas Har sosok lelaki yang tampan, sopan dan memiliki masa depan yang cerah. Dia sudah bekerja dan cukup mapan. Dia selalu perhatian padaku. Tapi kala itu usiaku masih sangat belia. Lima belas tahun. Kala itu aku cukup senang dengan perhatiannya. Mas Har sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Maklum aku anak pertama dalam keluarga. Dengan perhatiannya yang tulus dan intens, aku cukup terlindungi.

Kadang kala, Mas Har menyempatkan diri menjemputku di sekolah. Dengan sabar dia tunggu aku asik bercengkrama dengan sahabat-sahabatku.

“Alaina… Itu kakakmu sudah menunggu.” Ika sahabatku mengingatkanku. Dan aku melirik ke arah yang Ika sebutkan. Di luar pintu gerbang sekolah, kulihat Mas Har sambil tersenyum, dia melambaikan tangan. Dengan segera kuhampiri Mas Har.

“Hai, Mas… Tidak banyak kerjaan ya, kok sempat jemput aku.” Kataku padanya.

“Ya disempat-sempatin. Namanya pekerjaan, biar dikerjakan terus menerus, tidak akan ada selesainya.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Woooiii…!!! Aku pulang duluan ya!!!” Teriakku pada sahabat-sahabat tersayang.

“Anak gadis tidak boleh bicara teriak-teriak seperti itu.” Kata Mas Har mengingatkan.

“Ups… Sorry, Mas. Kebiasaan.” Jawabku tersipu malu. Mas Har hanya tersenyum simpul mendengar jawabanku.

Sejak awal dia datang ke rumahku, terlihat sekali dia sangat perhatian padaku. Aku yang waktu itu masih sangat belia, tidak pernah berpikir macam-macam. Aku hanya tahu, Mas Har menganggapku sebagai adik. Maka dia kuperkenalkan pada sahabat-sahabatku sebagai kakakku. Memang perbedaan usia kami sangat mencolok. Kala itu usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Beda dua belas tahun denganku. Jadi sangat wajar aku tidak pernah berpikir macam-macam tentang hubungan kami.

Hampir tiga tahun hubungan kakak adik di antara kami berjalan cukup lancar. Hingga pada suatu hari, saat hampir tiba masa kelulusanku, Mas Har bertanya padaku.

“Alaina… Seandainya ada seorang laki-laki ingin meminangmu bagaimana, apa kamu akan menerimanya?” Pertanyaan itu membuat aku tertawa.

“Nggaklah, Mas. Aku kan mau kuliah dulu. Masa masih kecil aku sudah harus menikah.” Jawabku spontan.

“Jadi kira-kira ada nggak harapan laki-laki itu untuk meminangmu?” Tanyanya lagi.

“Kayaknya nggak deh, Mas. Aku mau sekolah tinggi dulu, lalu aku akan bekerja sampai aku mendapatkan posisi yang baik. Baru setelah itu aku menikah.” Jawabku lagi tanpa mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mas Har.

“Jadi masih lama ya, kira-kira berapa lama lagi tepatnya?” Dengan lesu mas Har bertanya lagi.

“Bertahun-tahun, Mas. Mungkin sepuluh atau lima belas tahun lagi.” Jawabku dengan sangat yakinnya.

Itulah percakapan terakhir kami. Yang kuingat waktu itu Mas Har sepertinya sangat kecewa. Setelah itu aku tak pernah lagi melihatnya. Mas Har seperti hilang ditelan bumi. Tak pernah lagi ia datang. Dan aku juga tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Sesekali kutanya pada ibuku. Tapi beliau selalu berusaha menghindar untuk menjawab pertanyaanku.

Dan anehnya, aku merasa kehilangan Mas har. Aku sangat merindukannya. Tak pernah ada laki-laki yang bisa memasuki dan mengambil hatiku. Setiap ada seorang laki-laki mendekatiku, aku selalu membandingkannya dengan Mas Har. Aku rindu sekali padanya. Hingga kemudian kerinduanku aku tumpahkan dengan belajar dan belajar. Pada akhirnya aku berhasil meraih gelar sarjana. Tapi tetap ada yang kurang dalam kehidupanku.

Kemudian aku bekerja. Atasanku sangat menyukai hasil kerjaku hingga aku mendapatkan posisi yang baik dan gaji sangat besar. Itu memang keinginanku sejak dulu. Tapi sekali lagi, ada yang hilang dalam hatiku. Aku merasa tidak utuh dan tidak sempurna sebagai wanita.

Pada akhirnya, dengan perenungan yang matang, aku memutuskan untuk meninggalkan kantor megah tempat aku bisa mendapatkan segalanya. Aku sudah berpikir matang-matang. Dan keluargaku menyerahkan semua keputusan padaku.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat aku baru saja berhenti bekerja, sahabat masa laluku menawarkan sebuah pekerjaan yang tidak bergaji besar, tapi bisa menyempurnakan hidupku. Ya, temanku menawarkan aku untuk membantunya di panti milik keluarganya. Panti di mana anak-anak kurang beruntung berada. Anak-anak yang kurang akan kasih sayang berkumpul, yang insya Alloh aku bisa memberikan kasih sayangku pada mereka.

Aku sangat gembira dengan pekerjaan baruku. Aku merasa hidupku jadi lebih sempurna. Yang pasti, aku bisa mencurahkan rasa rinduku pada Mas Har buat mereka.

Heeemmm… Di saat aku sudah merasa nyaman itulah, Mas Har kembali datang. Aku sangat gugup. Seperti dulu, Mas Har memandangiku sambil tersenyum. Tanpa bicara, dia mengingatkanku pada masa lalu kami. Dan jujur, aku terguncang. Di saat aku sudah bisa berdamai dengan hatiku, kenapa dia datang mengguncangnya lagi.

“Apa kabar, Alaina?” Tanyanya dengan senyum menghias bibirnya.

“Mas Har…” Jawabku gugup.

“Ya, aku Mas Har. Sepuluh tahun kita tidak bertemu. Aku cukup kaget melihat keadaanmu. Bukankah kamu ingin memiliki pekerjaan yang bagus, Alaina?”

“Aku… Aku…”

“Kenapa Alaina. Kenapa kamu tinggalkan pekerjaanmu yang sangat bagus itu. Bukankah itu keinginanmu dulu?”

“Apa aku bilang begitu?”

“Ya, kamu mengatakan itu dulu, saat aku tanya jika ada laki-laki yang akan meminangmu apakah kau akan terima. Dan jawabmu kamu mau sekolah tinggi dulu kemudian kamu mau bekerja sampai kamu bisa mendapatkan posisi yang bagus. Begitu kan Alaina?”

Entah mengapa, tiba-tiba tanpa bisa kutahan, airmataku mengalir dengan sangat derasnya. Ya akhirnya aku menangis. Tangisan yang sepuluh tahun ini berusaha kutahan, akhirnya keluar juga.

“Jangan menangis, Alaina. Aku datang untuk meminta jawabanmu lagi. Seandainya ada laki-laki yang datang untuk meminangmu, apakah akan kau terima, Alaina?” Tanya Mas Har lembut.

“Selalu Mas bertanya seperti itu. Sebenarnya siapa laki-laki itu, Mas?” Jawabku sambil terisak.

“Masa kau tidak bisa menebak, Alaina. Dulu dan sekarang sama. Laki-laki itu adalah aku.” jelas Mas Har.

Air mataku bertambah deras mengalir. Dadaku terasa sesak dan pandangan mataku kabur tertutup airmata. Mas Har langsung meraih dan memeluk untuk menenangkan diriku.

“Maafkan aku, Alaina. Sepuluh tahun aku pergi tanpa memberikan kabar padamu. Jujur sakit sekali hatiku saat kupinang kamu sepuluh tahun yang lalu dan kamu menolakku. Aku kecewa lalu aku pergi. Tapi selama jauh darimu aku berpikir, ini bukan salahmu. Kamu masih terlalu muda waktu itu. Dan kini aku kembali. Apakah kamu mau menjadi istriku, Alaina?” Tanyanya lagi sambil menatap mataku.

“Aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu, Alaina. Tapi aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Aku sudah cukup tua saat ini, tapi cintaku padamu sama bahkan lebih dibandingkan dulu. Bagaimana, Alaina?” Tuntutnya masih dengan kelembutan.

“Kenapa tidak sejak dulu, Mas mengatakan kalau laki-laki itu adalah Mas sendiri?” Kataku menuntut jawabannya.

“Maaf, dulu kupikir, kalau aku langsung mengatakannya padamu, aku takut kamu justru malah akan lari dariku. Tapi sudahlah. Sekarang kuulangi lagi permohonanku. Apakah kamu mau menjadi istriku, Alaina?”

“Ya, aku mau, Mas… Aku mau…” Jawabku dengan gembira.

Itulah kisahku. Kadang aku berpikir, mengapa tidak sejak dulu kami menikah. Saat kami masih sama-sama muda. Tapi itulah rahasia Alloh untuk cinta anak manusia. Yang pasti setiap malam kupanjatkan doa sebab kebahagian sudah bisa kuraih. Mas Har sudah berada di sampingku sebagai suamiku. Dan anak-anak tanpa kasih sayang juga mengelilingiku. Bahagiaku semakin bertambah, beberapa bulan lagi kami akan memiliki buah cinta kami. Aku, Mas Har, anakku dan anak-anak panti. Kami akan bersatu saling menyayangi. Terima kasih, Alloh untuk semua yang kau berikan pada kami.

Cerpen Karangan: Rene Lestari
Facebook: renelestari[-at-]gmail.com

******

Demikianlah cerpen cinta romantis terbaik kali ini, jangan lupa datang kembali untuk membaca cerpen cinta lainnya di lifeblogid.com.



Tulis Komentar