_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"lifeblogid.com","urls":{"Home":"https://lifeblogid.com","Category":"https://lifeblogid.com/category/pengetahuan/agama/","Archive":"https://lifeblogid.com/2017/05/","Post":"https://lifeblogid.com/2017/05/20/ketahui-penyebab-bayi-muntah-setelah-minum-asi/","Page":"https://lifeblogid.com/kuppee-japanese-quality-international-specifications/","Attachment":"https://lifeblogid.com/ibu-hamil/","Nav_menu_item":"https://lifeblogid.com/2016/04/25/199450/","Mts_ad":"https://lifeblogid.com/?mts_ad=199934","Feedback":"https://lifeblogid.com/?post_type=feedback&p=199979"}}_ap_ufee

Cerpen Persahabatan – Sapu Tangan Merah

Cerpen Persahabatan – Pagi hari yang cerah ini, serasa begitu indah disambut dengan embun pagi yang menetes pelan–pelan di dedaunan. Hari ini serasa sejuk dengan angin yang berhembus pelan menghampiriku. Lizzi memulai pagi yang cerah ini dengan menyiapkan beberapa perlengkapan sekolah yang ingin dibawanya nanti. Lizzi bergegas mandi dan sarapan, Dia memanggil ayahnya “Ayah hari ini lizzi berangkat sekolah sendiri ya?” Kata lizzi. Ayah menjawab “Iya, tapi hati–hati jalanan sangat ramai.” lizzi menjawab “Oke ayahku yang ganteng”.

Rumahku agak sedikit jauh dari sekolahku, tapi itu tidak membuatku patah semangat untuk meraih cita-citaku. Dia mengendarai sepeda dengan santai dan menikmati udara pagi sambil menyanyikan lagu yang kusuka. Setiba di sekolah, lizzi menaruh sepedanya di halaman sekolah. “Huff… capek juga ternyata” kata lizzi.

Aku memasuki kelas ketika Brata membersihkan halaman depan kelas. Dia memanggilku “Hai lizzi” kata Brata. Aku langsung menjawab sapaannya “hai juga.” Brata menghampiriku dan berkata bahwa dia ingin membicarakan sesuatu yang sangat amat penting. Namun apa yang terjadi, bel sekolah sudah berbunyi dan aku segera masuk kelas.

Pelajaran pertama dimulai, kali ini pelajarannya adalah menyulam. “kalian sudah mebawa peralatan untuk menyulam anak-anak?” kata Bu Guru. Aku sibuk mencari-cari peralatan menyulamku di tas, teman-teman yang lain sudah memulai untuk menyulam. Aku kelihatan bingung dan sekujur tubuhku dipenuhi keringat yang menetes di wajahku.
Ternyata peralatan menyulamku ketinggalan ketika ingin berangkat sekolah, “aduhhh gawat nih, aku bisa dimarahin bu guru.” kataku. Aku ketakutan dan aku hampir menangis.

Brata segera menolongku untuk membantu mencarikan. “Ada apa ini?” kata Bu Guru. Aku terus terang kepada bu guru, tapi dengan perasaan tidak enak. Tetapi bu guru tidak marah sama sekali, ketika aku tidak membawa peralatanku. Brata dengan senang hati memberikan sebagian peralatan sulamnya padaku. Aku memulai menyulam dengan didampingi oleh brata yang selalu ada di sisiku. Dia mengajariku dengan penuh ketelatenan dan sabar dalam menghadapiku. Brata mengajak aku untuk bercanda, sampai-sampai tanganku terkena tusukan jarum sulam dan terasa sakit sekali. “Aww, aduhh sakit sekali nih” kataku. Brata langsung meletakkan sulamannya ke meja dan menolongku membersihkan lukaku yang terkena tusukan jarum, dia sangat perhatian denganku. Dia segera berlari mengambilkan obat merah untukku. Berselang itu, aku melanjutkan menyulam dan bercanda dengan dia. “Hati-hati nanti tanganmu terluka lagi.” kata Brata. Aku menjawab “Iya, makasih atas perhatiannya”.

Ternyata dia selesai duluan menyulam. “Woww, hebat juga ya kamu!” kataku. Dia hanya tersenyum. “Raut wajahnya seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku, tapi apa yang ingin dikatakan?” pikirku. Selang waktu berganti dia memulai pembicaraannya dengan kata “aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu” kata brata. Ketika ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting, bel sekolah sudah berbunyi waktunya masuk sekolah dan memulai pelajaran lagi.

Pelajaran bahasa indonesia dimulai dengan membuat puisi dan harus dibaca di depan kelas. Aku mengintip sedikit puisinya, kulihat itu cukup bagus, tapi apa dia menulis sebuah karangan puisi yang sangat mengharukan, aku hanya membaca judulnya “Perpisahan Seorang Sahabat”. Aku langsung terkejut melihat puisi itu. Ketika bu guru memanggil nama Brata, aku langsung membantunya untuk menyelesaikan kalimat terakhirnya untuk menutup puisinya. Dia membaca dengan menghayati dan sangat dalam hingga mengeluarkan air mata. Teman-teman menatap brata dengan penuh rasa haru dan sedih ketika dia membacakan puisi itu di depan kelas. Aku hanya tertunduk terdiam melihat dia membacakan puisi itu, aku hanya menangis tersedu-sedu melihat dia mengatakan kata-kata terakhir menutup puisinya. “Walau ini perih rasanya meninggalkan seorang sahabat”. Kata brata. Dia kembali ke tempat duduk dan memandangiku. Aku hanya tertunduk lesu sambil menatap dia dengan pandangan yang serius. Dia mengambil sapu tangan merahnya dari saku tasnya dan mengusapkan wajahku dengan sapu tangan pemberian dia. Brata berkata “jangan sedih terus, aku disini akan tetap bersamamu walaupun aku…” Aku memotong pembicaraannya karena aku berfikir pasti ini ada yang tidak beres.

Saat jam kosong, dia membuat sepucuk surat dan aku tidak memperdulikannya. Dia mencoba berbicara denganku, tapi aku tak menanggapinya. Ketika dia ingin mengucapkan sesuatu hal yang sangat penting, bu guru datang dengan membawa seseorang yang ingin menyampaikan sesuatu. “Anak-anak tenanglah sedikit, ini ada pengumuman untuk kalian” kata bu guru. Orang itu adalah ayahnya Brata yang sengaja datang ke sekolah untuk menjemput brata dan ingin membawanya pergi jauh mengikuti jejak ayahnya. Seketika aku hanya memandangi brata yang sangat tertunduk diam dan hanya menatap ke meja. “Apa ini yang akan akan dia katakan padaku?” kataku. “Apa benar brata dan seluruh keluarganya akan pindah jauh?” pikirku.

Ternyata pikiranku tidak meleset sekalipun, brata dan seluruh keluarganya akan pindah ke tempat yang sangat jauh. Aku hanya mencoba tegar dalam menghadapi masalah ini, dia terus memegangi tanganku dan mendekapku dalam pelukannya. Aku terus menangis sambil memeluk brata yang mencoba menenangkanku. “Ini sapu tanganku akan menemanimu dalam setiap waktu.” Aku berfoto-foto dengan dia, walaupun hati terasa sedih dan pilu aku tetap tersenyum melihatnya. Aku pulang dengan memandangi brata dan terus menyebut nama brata.

Sewaktu sampai di rumah, aku melihat sepucuk surat yang tergeletak di lantai teras rumahku. Aku langsung segera mengambilnya dan membaca surat itu dengan penuh hati-hati, ternyata isi surat itu berisi sebuah karangan puisi yang indah dari brata dan di bawah karangan puisi itu “tolonglah kamu datang ke taman dekat rumahmu, aku akan tetap menunggumu disini”. Aku langsung beranjak pergi dan mengayuh sepedaku sambil menggenggam sapu tangan merah. Sampai-sampai aku menabrak seekor kucing yang lewat di depanku, aku menaruh kucing itu di pinggir taman dan aku melihat seorang laki–laki duduk di antara barisan dedaunan yang kering. Nafasku mulai terengah-engah dan memanggil nama “Brata” dan dia pun segera menghampiriku yang terlihat sangat sedih sambil memelukku. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat aku ada didekap dia, hanya tangan dan air mata membasahi tubuhku. Aku menangis dan dia juga menangis, dia mengajakku untuk duduk dan berkata “Sapu tangan ini akan menemanimu setiap saat dan sampai kapanpun jiwaku tetap ada di sapu tangan ini, tolonglah jaga sapu tangan ini dengan penuh ketulusan hatimu dan kasih sayangmu yang telah kau berikan padaku.” kata brata. “Mungkin ini memang berat rasanya meninggalkanmu disini sendirian.” Kata brata. Aku hanya bisa memandanginya dan mengeluarkan air mata, rasanya sakit menusuk hati seperti ditusuk–tusuk oleh jarum jahit yang menancap terlalu dalam di hatiku. Dia mengusap air mataku untuk terakhir kalinya dan dia siap pergi meninggalkanku sendirian disini. “Jangan lupakan aku brata, kau tetap ada di hatiku tuk selama-lamanya, aku berjanji”. Kataku.

Aku pulang dengan membawa sapu tangan yang terus melekat di tanganku dan kubawa sepedaku sampai ke rumah.

Cerpen Persahabatan Karangan: Titania Ariantika
Facebook: Titania Ariantika



One Response

  1. Zen Mitsuhide

Tulis Komentar