_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"lifeblogid.com","urls":{"Home":"https://lifeblogid.com","Category":"https://lifeblogid.com/category/pengetahuan/agama/","Archive":"https://lifeblogid.com/2016/12/","Post":"https://lifeblogid.com/2016/12/18/proses-tumbuh-kembang-janin-di-rahim-ibu-selama-trimester-pertama/","Page":"https://lifeblogid.com/search/","Attachment":"https://lifeblogid.com/2016/12/18/proses-tumbuh-kembang-janin-di-rahim-ibu-selama-trimester-pertama/perkembangan-janin-di-rahim-ibu/","Nav_menu_item":"https://lifeblogid.com/2016/04/25/199450/","Mts_ad":"https://lifeblogid.com/?mts_ad=199934","Feedback":"https://lifeblogid.com/?post_type=feedback&p=199944"}}_ap_ufee

Cerpen Cinta – Tali Sepatu

Cerpen Cinta – Boja, Musim Kemarau 2005

Pemuda itu melepas tali sepatunya. Tak lama setelah ia berhasil, ia memasang kembali tali sepatu itu, kemudian ia lepaskan lagi, dan ia pasang lagi. Aku hanya tertawa kecil melihat dia. Kurang kerjaan, batinku. Seolah bisa membaca makna tawaku dia berkata; “Ini untuk mengisi kekosongan, Yash.. daripada bengong? Kesambet aja, heheheee”

“Siapa yang nanya?” sewotku

Pemuda itu hanya terkekeh sesaat. Cuek saja. Dia masih melanjutkan aktivitas tidak pentingnya. Melepas tali sepatu dan memasangnya kembali. Berkali-kali.

Remaja tampan itu temanku, namanya Dien. Harus kusertakan huruf e, supaya aku tidak mendapat protes darinya. Dia bilang aku menyalahi akte kelahirannya jika meniadakan huruf e diantara i dan n. Sebegitu detil ya, memang Dien itu suka rempong. Hal-hal sekecil itu seringkali menuai protes. Jangankan kalian, aku pun heran.

Kami berdua sedang menunggu giliran apresiasi, sebuah lomba puisi. Entah bagaimana pertimbangan dewan guru, mereka mengutus aku dan Dien untuk mewakili sekolah. Dien memang punya bakat membaca puisi, ekspresinya dapet banget. Tapi aku? Olalaa.. aku sendiri masih belum selesai terbingung-bingung. Kenapa aku ya?

Menjadi urutan terakhir dari 50 peserta memang sesuatu banget. Kami berdua sudah latihan sampai hafal. Sudah cerita, ngobrol, bercanda kesana-kemari sampai –kalau dalam film kartun –sudah berbusa-busa. Sudah jalan-jalan keliling gedung dan sekitarnya sampai jumlah thawaf haji. Sudah macam-macam.. tapi masih ada 35 peserta lainnya yang sama-sama tunggu giliran. Jadilah Dien membuat kesibukan baru –yang bagiku, sumpah! gak penting banget.

Tapi rupa-rupanya, aku sempat meniru perbuatannya itu. Melepas dan memasang tali sepatu berkali-kali, di kemudian hari. Saat aku menunggu antrian panjang, atau bosan, suntuk, kesepian dan merasa tidak ada kerjaan –walau sebenarnya banyak. Ah, satu lagi, saat aku merindukan Dien. Kenapa aku merindukan Dien? Hmm.. cinta pertama kurasa. Tapi pemuda itu melanjutkan studinya ke luar kota, kemudian ke luar negeri. Lama aku tak bertemu dengannya. Perasaanku pun, aku simpan dalam-dalam di hati. Terpendam bersama debu-debu musim kemarau.

Solo, Musim Hujan 2008

Tanah selalu basah, jalanan sering becek dan cucian enggak kering-kering. Begitulah ciri khas musim hujan. Dimana-mana, kapan saja, selalu sama. Banyak temanku yang merutuki hujan. Marah dan kadang sampai mengumpat bila hujan tiba-tiba turun deras di tengah aktivitas kami. Tapi apakah hujan bersalah? Tentu tidak. Hujan itu rahmat, selalu berkah dan nikmat. Diantara belasan mahasiswi yang berlarian menerobos hujan, aku berjalan santai saja. Menikmati. Toh hujan tidak turun sepanjang waktu, tidak juga sepanjang tahun, dan tidak tiap hari aku berkesempatan beramah tamah dengan hujan. Tak apalah sekali-kali.

“Yash! Nanti sakit lho.. ayo sini, ngiyup!” ajak seorang teman. Ngiyup? Berteduh? Ah, ngga’ minat. Baru gerimis saja, buat apa berteduh segala? Bikin tambah lama, batinku menolak. Aku mengangkat tanganku sambil lalu sebagai tanda penolakan.

Di pinggir jalan, tiba-tiba hujan terasa berhenti. Bukan karena langit tak lagi siramkan hujan, tapi karena seseorang berbagi payung denganku.

“Gak baek Yash, hujan-hujanan..” Tino. Seorang senior. Ramah ia tersenyum padaku. “Kamu enggak lagi patah hati kan?” tambahnya menggoda. Aku tersenyum kecil. Kalau Tino yang menghentikan aksi silaturrahmi hujanku, mana bisa aku menolak. Aku mengagumi Tino. Dia kakak senior yang baik. Pun ia aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.

Aku melangkah mengikuti irama kaki Tino. Ia dan payungnya yang memayungiku juga, seolah mengendalikan kemana aku harus berjalan. Tino menuju sebuah warung bakso. Seharusnya aku keberatan jika dia hendak mengajak mampir. Seharusnya. Tapi apa daya aku? Kukira ada semacam sihir yang menguasai aku. Membuatku tak menolak, membuatku mengekori Tino.

“Aku laper Yash, hujan-hujan gini enak maem yang anget-anget, gak papa kan?” tanyanya. Seharusnya aku bilang; aku enggak suka mampir-mampir. Buang-buang uang aja jajan dulu kaya gini. Aku mau langsung pulang aja. Tapi yang keluar dari mulutku. “Oke. Aku suka bakso kok,” Nah lhooo.. what’s wrong with me?

Kami duduk berhadapan. Sebuah warung bakso kecil dengan dinding yang bercat biru laut. Dipadu padankan dengan meja-kursi yang berwarna kuning cerah sebagian dan hijau muda sebagian yang lain. Lukisan abstrak orange-merah menambah semarak. Warna-warni sekali. Lupa sudah aku, di luar sana hujan mulai lebat. Langit gelap abu-abu.

“Yash, tali sepatumu copot.” Tino menunjuk tali sepatuku yang sudah kotor terseret sedari tadi. Tali sepatu? Aku segera menunduk membenarkannya. Melerai lepas tali sepatu kumuh itu dari lubangnya dan memasangnya lagi. Dien suka sekali begini. Tidak hanya pada kesempatan aku berlomba bersamanya dulu. Di hari-hari berikutnya, aku jadi sering memperhatikan kesibukan tidak penting itu dia lakukan. Unik sekali. Kadang dengan jahil aku rampas tali sepatunya dan kubuang ke sungai di depan gerbang sekolah. Wajah memberengutnya, tawaku yang begitu lepas, tali sepatu basah dan kotor. Ah, aku malah jadi bernostalgia dengan kisah lama, Dien dan tali sepatunya. Apa kabar ya dia?

Yogyakarta, Musim Kemarau 2011

Aku berkunjung ke kota pelajar pada bulan April. Beramai-ramai mengendarai motor sedari subuh. Kami seperti sedang konvoi saja. Meliuk-liuk kami menerjang angin dengan kecepatan tinggi. Jalan utama Solo-Yogya sangat sepi di pagi hari. Lalu lintas sepi, lenggang dan seolah masih tidur, belum bangun. Jarak normal yang semestinya 2 hingga 3 jam pun habis tuntas dalam 1 jam saja. Jiwa muda mungkin, senang berkebut-kebutan.

Pagi-pagi kami sudah sarapan di tepi lautan. Berjajar rapi dengan nasi kucing buatan sendiri di tangan masing-masing. Ombak Parangtritis tampak bersemangat menampar kaki-kaki kami yang tanpa alas. Bersambut dengan sorak-sorai dan tawa di tengah lahapnya makan. Hingga agak siang kami puaskan main air di pantai Nyi Roro Kidul. Refreshing.

“Yash, aku pengen cerita, boleh?” Tino kini duduk di sampingku. Tak sampai satu meter. Lina yang mustinya ada di antara kami sudah membaur dengan lima teman lainnya, bermain ombak dan air pantai.

“Monggo, Ndoroo..” kataku santai. Sudah empat tahun kami berteman baik. Meskipun tidak pernah ada percakapan serius antara aku dan Tino, tapi hatiku rasa-rasanya seperti mulai merajut perasaan lain untuknya. Berawal dari kagum lalu menjadi suka, kemudian merangkak menjadi … ah, apa sih. Aku tidak mau membahas perasaan. Bikin kikuk saja.

Tino tertawa sesaat. Tawa itu kemudian pudar perlahan. Kedua mata elangnya menatap teman-teman kami yang berlarian senang. Seperti anak kecil. Lirih Tino berkata; “Aku patah hati, Yash.” Ungkapan yang murung.
Patah hati? Kenapa dia tiba-tiba patah hati? Belum pula dia bercerita jatuh cinta, kok tiba-tiba curhat sedang patah hati?. Aneh lagi, kenapa hatiku ikut enggak karuan? Masa aku ikut patah hati?

“Kapan jatuh cinta? Udah patah hati aja..” protesku seadanya.
Tino tertawa lagi, kali ini, getir.

Tanpa mengindahkan pertanyaanku, dia melanjutkan. “Gadis itu, Yash.. kamu tahu?” dia membuat jeda. Seperti sedang mengatur kata-kata diantara tumpukan kepedihan yang ingin dia sampaikan. Mana kutahu, hatiku menjawab ketus. Kenapa aku ketus? Mungkin aku kecewa, Tino berarti tidak jatuh cinta padaku. Sebab jika dia jatuh cinta padaku, dia kan enggak mungkin patah hati, aku pasti mengiyakanmu Tino.. Andai kamu tahu.

“Wajahnya lembut banget Yash, kaya bidadari..” lanjutnya masih dengan mimik yang tadi. Seperti sedang membayang. Hatiku menjawab lagi; Oh Tino.. emang kamu udah lihat bidadari? Aku yang selembut bidadari aja enggak pernah kamu puji tuh.

“Bicaranya halus, suaranya merdu.. “ lanjut Tino. Dia memuji-muji dewi pujaan hatinya itu seolah aku ini tidak ada apa-apanya. Menyakitkan sekali.

“Lalu?” tanyaku. Aku menunduk. Entah bagaimana aku mulai malas mendengarkan. Kumainkan jemariku di atas pasir pantai, aku mengukir-ukir garis tak jelas di bawah kakiku.

“Matanya itu, hmf. Selalu teduh pandangan…” Tino masih memuji, menerawang, membayang. Dia tidak tahu aku –dengan mendengarkan kisah patah hatinya –pun jadi patah hati. “Langkahnya anggun, Yash.. kaya seolah dia itu gadis paling sopan sedunia.” Ya, ya… dia yang paling sopan sedunia. Betapa bodohnya aku bisa berpikir kalo pemuda ini pernah jatuh hati padaku? Mana mungkin?. Bahkan semua puji-pujian itu dia tuturkan penuh kagum. Seolah belum pernah bertemu yang seperti itu sebelumnya. Seolah yang lain-lain hanya boneka pelengkap dunia ini. Oh, aku semakin tidak sanggup mendengar dia terus memuji.

“Lalu –…”

“Lalu kenapa kamu patah hati?” tangkasku.

Tino menarik napas, panjang. Kemudian dia menghembuskannya keras-keras. “Keluarga kami nggak setuju, Yash.. “ ujarnya lirih. “Rasanya aku pengen kembali ke masa lalu aja, biar hilang semua rasa begini, biar aku memilih tidak usah kenal dia aja..” Aku juga kepingin begitu. Aku kira selama ini kamu menyukaiku. Aku kira dia menyimpan perasaan untukku. Selain sikapnya yang tampak begitu mengistimewakan aku, teman-teman karibnya pun seringkali menyemangati aku. Mereka bilang, Tino menyukai Yash. Ternyata itu hanya asumsiku yang keliru. Bukankah aku yang lebih layak kembali ke masa lalu dan memilih enggak kenal kamu?

Atau minimal memilih enggak GR kaya gini.
“Bahkan kadang aku berpikiran ekstrim, Yash.. aku kepingin ketabrak mobil, hilang ingatan dan lupa pernah patah hati kaya gini,”

“Tenggelem aja Tin, lebih gampang… tuh, ombaknya lagi tinggi!” aku menunjuk laut. Memang benar, ombak Parangtritis seperti sedang mengamuk. Menggulung besar-besar. Membuat teman-temanku makin riang menantangnya.

“Kebanyakan nelen aer waktu tenggelam bisa bikin orang amnesia juga kok, katanya..” tambahku asal. Aku kesal setengah mati. Kesal pada kenyataan, diriku sendiri dan Tino.

Tino tertawa kaku. Tampak kesal juga dengan jawabanku. Impas, pikirku egois.

Semarang, Musim Hujan 2014

Wajah yang kukenal. Mata yang kukenal. Senyum yang kukenal. Menyumbul diantara hadirin ruang kebesaran. Mendekat dan menyapa. Aku sampai terbengong-bengong. Is it right?

“Hai, 8 tahun lebih enggak ketemu kok kamu nggak tambah cantik sih? Hehehe” itu Dien yang bicara. Teman SMP-ku! Si tali sepatu enggak penting! Dia sudah menjadi seorang pemuda gagah, rupawan dan terpelajar sekarang. Baru pulang ke tanah air setelah menyelesaikan studi strata satu-nya di Jepang, beasiswa.

Siapa sangka, aku dan Dien bertemu kembali setelah sekian lama. Sebuah acara wisuda di IAIN Walisongo. Di antara ratusan tamu undangan, tidak diundang, dan wisudawan-wisudawati, ada Dien yang bertahun-tahun ditenggelamkan masa, dan ada aku yang bertahun-tahun juga hanya mampu mengingat masa, membayang tali sepatu Dien.

Bukankah sepasang muda-mudi yang memendam cinta, berpisah, lantas bertemu lagi oleh skenario takdir berarti berjodoh? Ah, ya. Tentu saja begitu. Lihatlah sekarang aku dan Dien yang sudah bertahun-tahun terpisah, hilang kabar, sekarang bertemu lagi dalam sebuah acara dengan skenario Tuhan, takdir yang mempertemukan kami. Ini sudah jelas pertanda bahwa aku dan Dien adalah jodoh.

“Apa kabar, Dien? Kapan pulang di tanah air?” tanyaku ramah. Ah, aku malu mengakui bahwa senyumku bungah sekali.

“Kabar baik, kamu? Aku baru pulang minggu lalu, for this special event” katanya diiringi seulas senyum manis.

“Spesial? Emang siapa yang wisuda? Adik kamu?”

Dien sudah membuka mulut, siap menjawab, namun seorang gadis cantik memanggilnya, mengurungkan niatnya menjawabku. Gadis itu berjalan anggun dengan baju kostum wisuda lengkap.

“Kirain mas gak jadi datang,” sapanya pada Dien. “Jadi dong…” jawab Dien bangga. Kemudian percakapan ringan meluncur diantara keduanya. Asyik sekali. Aku hanya memperhatikan, seperti sedang jadi obat nyamuk, atau patung penjaga.

“Oh, ini adek kamu..” aku asal tebak. Menyela percakapan mereka yang masih asyik. Ngga’ lucu banget kan aku jadi penonton mereka? Jadi mending ikut nimbrung obrolannya saja.

“Bukan kak, saya tunangannya.” Jawab sang gadis cantik masih bersama tawa bahagianya. Oh no! Tunangan? Apa aku salah dengar? Dunia mendadak bergetar, aku kira merapi meletus. Nyatanya hatiku yang meletus. Patah sudah pengharapan. Apa dia bilang? Tunangan? Berarti tak tersisa sepucuk pun harapan bagiku.

“Kenalkan, Yash ini Neina tunanganku, Neina ini Yash teman SMP mas dulu.” Dien mengenalkan kami. Aku tersenyum semanis yang kumampu, aih, aku harus tampak baik-baik saja, tidak boleh kelihatan kecewa Dien sudah bertunangan.

“Selamat ya, Neina .. semoga jadi sarjana yang bermanfaat.” Kataku tulus.

“Makasih, kak…” jawab Neina lembut. Tak lama kemudian aku pamit pada Dien dan tunangannya. Aku bergabung dengan Johan –adikku yang wisuda –dan keluargaku. Sebenarnya aku masih shock. Dien sudah bertunangan, membuatku meralat hipotesaku: Jodoh itu, jika sepasang muda-mudi yang memendam cinta, berpisah, dan bertemu lagi, dengan catatan kedua-duanya tetap lajang pada pertemuan yang diskenariokan Tuhan. Ingat! Masih sama-sama lajang.

Solo, Musim Kemarau 2014

“Halo lajang lapuk, hehee..” Aku cemberut. Tino justru cengengesan di sampingku. Dengan santai dia meraih sebuah kursi, menjejeriku, lantas mendudukinya.

“Halo juga bujang busuk,” timpalku ketus.

“Haduuuuhh… kalian berdua ini, sama-sama single, mbok ya jangan saling menghina, kan mendingan disatukan aja, ya to?” Enan angkat bicara.

“Enggak minat.” Tolakku tegas.

“Uiih… sadis Tin! Sabar ya broo…” Tino hanya terkekeh. Dia tidak menggubrisku. Dia tetep di tempatnya, cengar-cengir padaku.

“Kenapa Yash? Patah hati lagi? Ehehhee..” Oh Gosh! Dia bilang ‘lagi’? apakah maksud dia aku sudah sering patah hati? Makin malas saja aku menanggapi. Tapi semakin aku marah, paling-paling Tino malah akan semakin semangat menggodaku.

Aku tersenyum dibuat-buat, menghadap padanya, “Enggak pernah patah hati, tuh.” Bantahku halus, bohongku. Dan well, memang sebenarnya aku sedang patah hati sama si mister ‘tali sepatu’. Tega nian dia muncul lagi kalau buntutnya cuma mau pamer status bertunangan? Bikin sakit hati saja.

“Aku denger pangeran harapanmu sudah mau nikah ya? Hmf. Aku turut prihatin, Yash.” Ujarnya, entah tulus entah enggak.

Lagi-lagi aku tersenyum kaku, “Pangeranku belum mau nikah kok, dia sekarang sedang nyariin aku, sebentar lagi juga ketemu.”

Tino tertawa. Enan ikut-ikutan. “Emang siapa pangeran kamu?” katanya meremehkan.

“Dosen, kamu juga kenal.” Jawabku sembarangan. Aku berharap saat begini semua malaikat yang berada di sekitar kami dan mendengar, serentak mengucap “aamiiiinn”.

Enan bangkit dari duduknya “serius??”

Aku pun bangkit dari tempat dudukku, beranjak meninggalkan mereka dengan berkata, “Penasaran? Hehhe.. tunggu tanggal maennya!”

Aku sungguh berdoa, semoga ada pangeran sungguhan datang padaku, tidak harus benar-benar dosen seperti yang aku katakan barusan. Siapa saja yang sholeh. Untuk mengobati luka hatiku. Ah, sampe sepatuku sekarang enggak pernah lagi yang ada talinya. Trauma tali sepatu. Padahal tali sepati enggak pernah salah. Pun sebenarnya Dien juga tidak salah, dia bahkan tak pernah menjanjikan apapun padaku, tidak pula memberi harapan. Satu-satunya yang salah adalah hatiku yang mengharap. Harapan dan keinginan memang seringkali menyakiti.

Colomadu, 31 March 2014

Cerpen Karangan: Aya Emsa
Blog: butirbutirembun.blogspot.com
Facebook: anindya aryu emsa



Tulis Komentar